Gotong royong bukan sekadar tradisi ia adalah roh yang menghidupkan sebuah desa.
Pada Jumat, 12 Juni 2026 pukul 13.00 WIB, Tim PPK Ormawa BEM FMIPA Universitas Negeri Semarang (UNNES) secara resmi membuka program pengabdian mereka di Desa Peron dengan menggelar kegiatan pembukaan dan sosialisasi awal kepada masyarakat setempat.
Kegiatan ini dihadiri oleh 83 perwakilan warga Desa Peron sebuah angka yang mencerminkan antusiasme dan rasa ingin tahu masyarakat terhadap program yang akan dijalankan. Hadir pula sejumlah tamu kehormatan dari berbagai pihak, di antaranya dari lingkungan Universitas Negeri Semarang yakni Wakil Dekan 1 FMIPA UNNES, Zaenal Abidin, S.Si., M.Cs., Ph.D., serta PIC FMIPA UNNES, Amnan Haris, S.Si., M.Ling. Dari unsur pemerintahan, hadir Kepala Desa Peron, Erna Hermawati, serta perwakilan dari pihak kecamatan, Septina Suratinah. Kehadiran para tokoh ini menegaskan bahwa program PPK Ormawa bukan sekadar kegiatan mahasiswa biasa, melainkan sebuah gerakan kolaboratif yang mendapat dukungan lintas sektor.
PPK Ormawa, atau Penguatan Program Kapasitas Organisasi Mahasiswa, merupakan program hibah dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi yang mendorong organisasi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pemberdayaan masyarakat. Melalui program ini, BEM FMIPA UNNES menjawab tantangan tersebut dengan memilih Desa Peron sebagai lokasi pengabdian sebuah pilihan yang penuh makna dan tanggung jawab.
Sengkuyung dalam bahasa Jawa berarti bersama-sama, saling mendukung, bergotong royong. Kata ini dipilih bukan tanpa alasan. Ia mencerminkan semangat yang ingin dibangun sejak hari pertama: bahwa program ini bukan tentang mahasiswa yang "datang memberi", melainkan tentang kebersamaan antara mahasiswa dan warga dalam membangun desa secara berdampingan.
Filosofi sengkuyung inilah yang menjadi fondasi seluruh rangkaian kegiatan PPK Ormawa di Desa Peron.
Kegiatan pada hari itu berlangsung dalam tiga tahapan yang saling melengkapi:
Sesi pembukaan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh harapan. Perangkat desa, tokoh masyarakat, dan warga Desa Peron menyambut kedatangan tim dengan tangan terbuka. Dalam momen ini, perwakilan tim PPK Ormawa menyampaikan maksud dan tujuan kehadiran mereka bukan sebagai pihak luar yang menggurui, melainkan sebagai mitra belajar yang ingin tumbuh bersama masyarakat. Sambutan dari Kepala Desa Erna Hermawati pun menegaskan bahwa Desa Peron terbuka dan siap berkolaborasi demi kemajuan bersama.
Salah satu hal yang membedakan pendekatan tim adalah komitmen mereka untuk mendengar terlebih dahulu sebelum bertindak. Sosialisasi awal bukan diisi dengan paparan program satu arah, melainkan menjadi ruang dialog yang hidup. Warga diajak untuk menyampaikan potensi dan keunggulan yang dimiliki desa, mengutarakan permasalahan dan tantangan yang selama ini dihadapi, serta memberikan masukan atas rencana program yang akan dijalankan. Banyak warga yang awalnya hanya datang sebagai penonton, pada akhirnya ikut berbicara, berbagi cerita, dan menawarkan ide sebuah pertanda yang sangat baik.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan hari itu, tim mengadakan pre-test kepada warga. Kegiatan ini bertujuan untuk mengukur sejauh mana pengetahuan awal masyarakat mengenai risiko dan mitigasi bencana longsor yang menjadi salah satu fokus program. Hasil pre-test ini akan menjadi baseline data yang sangat berharga untuk merancang program edukasi dan pemberdayaan yang tepat sasaran dan sesuai kebutuhan nyata masyarakat.
Yang paling berkesan dari kegiatan hari pertama ini adalah bagaimana batas antara "mahasiswa" dan "warga" mulai mencair. Mereka duduk bersama, berdiskusi bersama, dan saling mendengarkan. Tidak ada sekat formal yang kaku. Inilah esensi dari sengkuyung yang sesungguhnya.
Bagi para anggota tim, pengalaman ini bukan hanya tentang menjalankan program kampus. Ini adalah sekolah kehidupan tempat mereka belajar tentang kerendahan hati, empati, dan arti nyata dari kata pengabdian.
Pembukaan dan sosialisasi awal PPK Ormawa BEM FMIPA UNNES di Desa Peron pada Jumat, 12 Juni 2026 telah menorehkan kesan yang mendalam. Kehadiran 83 warga, dukungan pemerintah desa, pihak kecamatan, hingga civitas akademika UNNES membuktikan bahwa program ini benar-benar lahir dari dan untuk masyarakat.
Langkah pertama ini membuktikan bahwa ketika niat baik bertemu dengan keterbukaan masyarakat, hal-hal luar biasa bisa terjadi. Perjalanan masih panjang. Program-program nyata akan segera menyusul. Namun satu hal sudah pasti Sengkuyung Desa Peron telah dimulai, dan semangatnya tidak akan padam.
Share :